Kali ini saya akan menyajikan cerpen bertema sahabat
selamanya. Cerpen ini ditulis oleh Alicia M. Boxler untuk buku Chicken Soup
for the Teenager Soul III.
Cerpen Sahabat:
Pilihan
Saat pertama kali aku mengenal Molly, ia langsung menjadi
sahabatku. Kami menyukai hal yang sama, tertawa menikmati lelucon yang sama,
dan bahkan sama-sama mencintai bunga matahari. Seakan kami saling menemukan
pada waktu yang tepat. Sebelumnya kami berdua bergabung dalam dua kelompok main
yang berlainan yang tidak rukun atau tidak cocok. Kami sangat bergembira saling
berkenalan.
Persahabatan kami tumbuh menjadi sangat erat. Keluarga kami
pun menjadi bersahabat, dan semua orang tahu di mana ada Molly, di situ pulalh
aku berada, dan sebaliknya. Di kelas lima kami tidak sekelas, tapi pada waktu
istirahat, kami duduk bersama di kursi yang sudah ditentukan dan saling
mengobrol. Para petugas kantin tidak menyukai ini. Kami selalu menghalangi
jalan, bicara terlalu keras dan tidak menyantap makanan siang kami, tapi kami
tidak peduli. Para guru tahu kami bersahabat, tapi kami juga menganggu. Mulut
kami yang sembarangan bicara sering menyusahkan kami, dan kami diperingatkan
tak akan pernah didudukkan sekelas lagi kalau terus seperti ini.
Pada musim panas itu, Molly dan abangnya sering bermain di
rumahku. Ibuku mengurus mereka pada waktu ibu mereka bekerja. Kami berenag,
bermain di luar dan berlatih bermain suling. Kami membeli liontin persahabatan
dan mengenakannya sesering mungkin.
Musim panas berlalu dengan cepat, dan sekolahpun dimulai.
Sebagaimana yang telah diperingatkan para guru, kami tidak duduk sekelas. Kami
masih suka ngobrol di telepon, saling berkunjung, bernyanyi dalam paduan suara,
dan berlatih meniup suling bersama dalam band. Tak ada yang bisa memisahkan
persahabatan kami.
Kelas tujuh dimulai, dan lagi-lagi kami tidak sekelas dan
tidak bisa duduk berdekatan saat beristirahat makan siang. Seakan kami berdua
sedang diuji. Kami sama-sama mempunyai teman baru. Molly mulai sering bermain
bersama kelompok bermain yang baru dan ia semakin populer.
Kami jarang melewatkan waktu bersama, dan juga semakin
jarang ngobrol di telepon. Di sekolah aku berusaha berbicara dengannya, tapi ia
tak acuh. Kalaupun kami punya sedikit waktu untuk bicara, salah seorang
temannya yang populer itu akan muncul dan Molly akan bersamanya, meninggalkan
aku sendiri, sungguh menyakitkan.
Aku sangat bingung. Aku yakin ia tak menyadari pada waktu
itu betapa sakit hatiku, tapi bagaimana bisa aku menceritakan hal itu kepadanya
kalau ia tak mau mendengarkan? Aku mulai bermain bersama teman-teman baruku,
tapi keadaannya tidak sama. Aku berkenalan dengan Erin, yang juga teman Molly.
Ia dan Molly pernah bersahabat, dan kemudian Molly memperlakukannya seperti
sekarang ia memperlakukan diriku. Kami memutuskan untuk bicara kepadanya.
Percakapan di telepon itu bukan hal yang mudah. Membicarakan
betapa hatiku sakit sangatlah sulit. Aku sangat khwatir menyakiti perasaannya
dan membuatnya marah. Tapi sungguh mengherankan - saat kami berdua ngobrol di
telepon, kami berteman lagi. Ia kembali menjadi Molly yang sama.
Kujelaskan bagaimana perasaanku, ia juga menjelaskan
perasaannya. Baru aku sadarai bahwa aku bukan satu-satunya yang terluka. Ia
juga kesepian tanpa kehadiranku sebagai teman ngobrol. Apa yang harus
dilakukannya? Jangan mempunyai teman baru? Tak pernah hal itu terpikirkan
olehku, tapi ia merasa ditinggalkan olehku dan teman-teman baruku. Ternyata
akupun pernah mengabaikannya secara tak sadar. Tampaknya kami ngobrol lama
sekali di telepon, karena setelah obrolan kami selesai, aku telah menghabiskan
banyak tisu untuk menghapus air mataku. Kami berdua memutuskan tetap bermain
bersama teman-teman baru kami masing-masing, tapi kami tak akan pernah melupakan
keceriaan dan persahabatan kami.
Aku takkan pernah melupakannya. Molly telah mengajariku
sesuatu yang penting. Ia mengajariku bahwa keadaan bisa berubah, orang bisa
berubah, tapi itu tidak berarti kita melupakan masa lalu atau berusaha
menutup-nutupinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar